Archive for Januari, 2010

we are ” ARRAS ORGANIZER “

Penyelenggara acara (Inggris:Event organizer) adalah istilah untuk penyedia jasa profesional penyelenggara acara. Meski bisa dialihbahasakan, namun umumnya istilah aslinya tetap dipergunakan. Atau untuk mudahnya disebut EO Pada dasarnya, tugas dari EO. adalah membantu kliennya (client) untuk dapat menyelenggarakan acara yang diinginkan. Bisa jadi hal ini karena keterbatasan sumber daya atau waktu yang dimiliki klien, namun penggunaan jasa EO. juga dimungkinkan dengan alasan agar penyelenggaraannya profesional sehingga hasilnya lebih bagus daripada bila dikerjakan sendiri
. • MICE : Kependekan dari Meeting, Incentive, Convention, Exhibition). E.O. yang khusus bergerak di bidang penyelenggaraan acara berbentuk pertemuan.
• Musik dan Hiburan: E.O. yang memiliki spesialisasi di bidang hiburan terutama musik.
• Penyelenggara Pernikahan: E.O. yang mengkhususkan diri membantu klien mengadakan pesta pernikahan.
• Penyelenggara Ulang Tahun: E.O. yang ahli membuat pesta ulang tahun termasuk untuk anak-anak.
• Penyelenggara Pribadi: E.O. khusus yang bergerak untuk penyelenggaraan pesta pribadi terutama bagi orang kaya.
Secara pengertian Event Organizer dalam era promosi modern, tidak jauh berbeda dengan pengertian harfiah. Mungkin yang membedakan adalah bahwa Pengorganisasian acara atau organizing event-nya merupakan bentuk kerjasama team yang harus solid dan bertanggung jawab penuh pada client yang telah membayar jasa event organizer.

Kalau ingat Acara 17 Agustusan, acara di lingkungan rumah, acara keagamaan dan sejenisnya, sebenarnya kepanitian dalam acara tersebut, sudah bisa disebut EO, hanya saja, peran EO tidak memiliki satu ikatan tanggung jawab sebesar dalam EO saat ini. Kalaupun nggak tanggung jawab dan bekerja secara maksimal pada acara – acara itu, paling banter kita dapat teguran dari ketua panitianya.

Nah, karena EO dalam skala industri & promosi, tanggung jawabnya lebih besar lagi, karena client memiliki wewenang untuk komplain, bahkan sampai menunda pembayaran, dan paling jelek adalah tidak membayar jasa event organizer bila memang hal tersebut tertuang dalam kontrak kerjasama yang telah disepakati antara client dan EO-nya.

Makanya, dalam kacamata industri, Pengertian EO atau Definisi Event Organizer menurut saya adalah : Bidang usaha jasa yang secara sah ditunjuk oleh clientnya untuk mengorganisasikan acara, mulai dari pembangunan dan pengembangan konsep, perencanaan, persiapan hingga eksekusi agar acara dapat berjalan dengan baik dan teratur, serta membantu client memenuhi tujuan yang diharapkan dengan diadakannya acara tersebut.

Nah, untuk bantuan pengembangan konsep, perencanaan, persiapan hingga eksekusi berbagai macam event, anda, yang memerlukan jasa EO, silahkan hubungi saya, Yudhi Megananda, professional Event Organizer di Jakarta, pada no. telp yang tertera di profile saya atau via email.

Arras Organizerd ini adalah sebuah event organizer yang bergerak dalam event – event akbar seperti pensi, talk show, seminar, dan kompetisi kejuaraan . . jika berminat hubungi, adito januar di (FB) pangeranarras@rocketmail.com atau via phone 021-97738590

Iklan

ibu, maaf kan aku . . .jika aku kurang memperhatikan engkau

**diangkat dari kenyataan hidup kita masing-masing**
—-baca dengan seksama dan hayati kisah ini—–

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak
laki-laki dari sebuah keluarga yang amat sederhana. Bahkan untuk makan saja,
seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bagian nasinya
untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata, “Makanlah nak, aku
tidak lapar.” Dan setelah aku dewasa aku baru tersadar bahwa saat itu ibu telah
berbohong.

Ketika saya mulai menginjak remaja, ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya
selalu gigih dalam membantu ayah mencari nafkah. Berusaha apa saja ia lakoni
demi mendapatkan sejumlah uang. Namun pernah satu kali ia tak mendapatkan
bayaran atas usahanya, ia hanya mendapatkan upah dengan beberapa ekor ikan segar
yang dimasaknya menjadi sebuah hidangan yang menggugah selera.

Sewaktu memakan makanan itu, ibu duduk di samping kami dan memakan sisa daging
ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa makanan kami. Melihat itu tentu
saja aku tak tega dan menyodorkan ikan bagianku kepadanya. Tetapi ibu dengan
cepat menolaknya. “Makanlah nak, ibu tidak begitu suka dengan daging ikan,”
tuturnya. Dan aku kembali menyadari bahwa ibu telah kembali berbohong.

Saat aku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, demi membiayai uang sekolah itu,
ibu rela mengerjakan sulaman barang-barang kerajinan yang didapatnya dari
tetangga sebelah rumah. Sedikit demi sedikit ia selesaikan pekerjaannya itu.
Saat itu aku trenyuh menyaksikan kegigihan ibu, karena hingga jam menunjukan
pukul satu malam ibu belum juga berhenti. Saat aku memintanya untuk istirahat
dan tidur, ia malah menyuruhku untuk tidur terlebih dahulu, sementara ia
beralasan belum mengantuk.

Hari-hari terus berjalan, hingga pada waktu yang telah digariskan, ayah
meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Setelah kepergian ayah, ibu yang
malang harus merangkap menjadi ayah, membiayai keperluan hidup kami
sendiri dan tiada hari tanpa penderitaan. Hingga banyak keluarga ibu yang
mensehati ibu untuk kembali menikah, tetapi ibu menolaknya dengan mengatakan
bahwa ia tak butuh cinta, dan aku tahu saat itu ibu berbohong.

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja,
ibu yang mulai renta sudah waktunya beristirahat. Tetapi ibu tidak mau, ia rela
pergi ke pasar setiap pagi menjual sedikit sayur untuk memenuhi keperluan
hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar
kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi
keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak mau menerima uang tersebut. “Gunakan
saja uang itu untuk keperluan kalian, saat ini ibu tak membutuhkan uang kalian.”
Entah sudah berapa kali ibu berbohong.

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena sebuah penyakit, kini ia harus
dirawat di rumah sakit. Aku yang berada jauh di seberang lautan harus segera
pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di
ranjangnya setelah menjalani pembedahan di bagian perutnya.

Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun
senyum yang terpancar di wajahnya terkesan agak kaku, karena sakit yang
ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menggerogoti tubuh ibuku,
sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil
berlinang air mata. Hatiku pedih, sakit sekali melihat ibuku dalam keadaan
seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata, “Jangan menangis anakku, aku
tidak kesakitan.” Dan itu kebohongan ibu yang kesekian kalinya.

Setelah mengucapkan kebohongannya-kebohongannya, ibuku tercinta menutup
mata untuk yang terakhir kalinya. Demikianlah, ibu yang telah melahirkan kita,
merawat kita sejak dilahirkan, akan selalu terpaksa untuk berbohong demi
membahagiakan kita. Dan sudahkan kita mengingat mereka, mengingat para ibu kita
yang kebetulan saat ini masih hidup dan butuh pertolongan kita. Sudah berapa
lamakah kita tak mengunjungi mereka, tak berbincang-bincang dengan mereka cuma
karena aktivitas kita yang padat.

Kita harus akui bahwa kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika
dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan pasangan kita.
Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita, risau apakah dia sudah
makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah
kita semua pernah merisaukan kabar dari orangtua kita?

Risau, apakah orangtua kita sudah makan atau belum? Risau, apakah orangtua kita
sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan lagi.
Saat kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orangtua, lakukanlah
yang terbaik. Jangan sampai ada kata “menyesal” di kemudian hari.

salam semangat . .
line curhat via phone 021-97738590 (pangeran arras/ adityo)
tempat kita sharing dan curhat
wassalam

ayah, kau pahlawanku

terima kasih ayah . . .

Asap putih mengepul di atas sepiring nasi. Tak jauh dari sana terletak sepiring tahu dan tempe goreng, sebotol kecap manis serta segelas air putih. Aisyah, gadis kecil berkerudung putih duduk menghadap meja makan seraya berdoa, semoga Alloh melimpahkan keberkahan pada makanan di hadapannya tersebut. Sebenarnya Aisyah memiliki dua saudara lagi, namun acara makan paginya sering ia lewati sendirian. Ibunya sedang sibuk memandikan adik laki-lakinya yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Kakaknya ikut saudara ke luar kota untuk menimba ilmu di sana. Dan Ayah sudah mengayuh becaknya sejak pagi buta.

Ada satu kebiasaan Ayah yang selama ini diam-diam di perhatikan oleh Aisyah. Ayah selalu makan setelah anak-anaknya selesai makan. Tak jarang Ayah berpuasa karena persediaan bahan makanan yang menipis. Namun tak sekalipun Ayah mengeluhkan masalah itu. Apalagi untuk biaya sekolah anak-anaknya, meski sulit Ayah terus berusaha memenuhinya. Walaupun terkadang harus pinjam ke sana kemari.

“ilmu adalah bekal hidup di dunia serta media untuk memperoleh bekal di akhirat nanti, dan hanya ini warisan terbaik yang bisa Ayah berikan” tutur Ayah ketika Kakaknya berniat tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Sebenarnya waktu itu Kakak Aisyah ingin bekerja saja untuk membantu mengurangi beban orang tuanya yang kian menggunung. Dengan keteguhan hati dan keyakinan Ayah untuk selalu menyandarkan masalah pada Dzat Yang Maha Kuasa, kini Kakak Aisyah benar-benar bisa bekerja dan terus melanjutkan sekolah. Kakak Aisyah bekerja separoh waktu di sebuah toko foto copy. Dengan gaji 150.000 rupiah tiap bulan, Kakak Aisyah bisa memenuhi kebutuhan sekolahnya dan mengirimkan sebagian lagi untuk orangtuanya. Untuk makan dan tempat tinggal, Alhamdulillah ada saudara mereka yang membantu.

Masa ujian sekolah adalah masa yang istimewa bagi Aisyah dan saudara-saudaranya. Sehari sebelum ujian mereka diwajibkan untuk mandi keramas, memotong kuku dan membersihkan badan dari daki serta kutu rambut. Terkadang siang hari Ayah meluangkan waktu untuk mencari kutu di rambut anak-anaknya sekaligus memastikan bahwa mereka benar-benar telah bersih. Telinga adalah bagian pertama yang di cek terlebih dahulu, bila ada sedikit saja kotoran maka Ayah akan menyuruh mereka membersihkan ulang.
“telinga adalah indera pendengaran. Sebagian besar informasi masuk melalui indera ini. Jangan sampai salah mendengar instruksi hanya karena telinga yang bermasalah” jelas Ayah dengan tegas.

Dulu ketika Kakaknya masih berada di rumah, Aisyah suka berebut untuk dicari terlebih dahulu kutunya. Meski kadang sebenarnya tak terdapat kutu di kepala mereka, tapi inilah kesempatan dimana mereka bisa benar-benar merasakan kasih sayang Ayahnya.
“bila badan kalian bersih, maka kalian akan bisa berfikir dengan tenang”kata Ayah seraya menyibak rambut Aisyah helai demi helai, ketika ia bertanya mengenai ritual itu.
Menjelang sore Ayah mulai mengecek perlengkapan sekolah mereka. Mulai dari pensil, penghapus dan yang paling tak boleh ketinggalan adalah nomer ujian. Ayah memastikan semuanya telah siap. Pensil harus sudah teraut dan lebih dari satu, cadangan kalau-kalau patah ketika di kelas. Penghapus dalam kondisi bersih, bila ada sisa pensil yang menempel, tinggal gosok pada dinding bercat putih maka penghapus akan kembali bersih. Ibu pun ikut sibuk menyiapkan seragam dan sepatu, tak ketinggalan kaos kaki juga harus telah siap di tempatnya. Pagi harinya mereka mendapat menu istimewa yang tak didapat di hari yang lain. Yaitu segelas susu sapi murni yang telah direbus dan di campur dengan kuning telur ayam kampung serta madu. Segelas susu itu dibagi bertiga, meski adiknya belum mengikuti ujian tapi ia pun mendapat bagian. Aisyah merasa seperti hendak perang saja.

Dalam hati ia sangat bersyukur memiliki orangtua seperti mereka. Ia berjanji dalam hati untuk selalu memberikan yang terbaik untuk mereka. Tak henti-hentinya ia berdoa untuk kebahagian dan keselamatan mereka.
Suatu hari Aisyah mendapati Ayah tengah duduk di tepi ranjang sedang membaca surat dari Kakaknya. Tanpa sepengetahuan Ayah Aisyah mendapati sebutir air merembet dari sudut mata Ayah. Merembet pelan turun menyusuri hidung dan sudut bibir Ayah yang tersenyum samar. Mata Ayah berkaca-kaca memancarkan sinar kebahagiaan sekaligus kerinduan. Esoknya baru Aisyah tahu isi surat tersebut, yang pada intinya berbunyi

“…berkat doa Ayah dan Ibu Nanda dapat menyelesaikan ujian akhir dengan lancar. Alhamdulillah kini nanda telah lulus dengan nilai terbaik. Nanda berharap Ayah dan Ibu dapat hadir dalam penyerahan ijazah Nanda, Insya Alloh tiga minggu lagi. Janganlah Ayah dan Ibu risau akan keadaan dan pendidikan Ayah dan Ibu yang tidak setingkat.
Ayah, selama jauh dari rumah, Nanda tetap melakukan apa yang selama ini ayah ajarkan ketika hendak mempersiapkan ujian. Saat-saat yang paling Nanda rindukan adalah saat Ayah meletakkan kepala nanda di pangkuan Ayah dan dengan teliti mencari kutu serta telurnya di sela-sela rambut Nanda.
Seraya memberi nasehat tentang kehidupan.
Ayah,
Nanda menjadi tegar karena belajar dari ketegaran Ayah.
Nanda menjadi sabar karena belajar dari Ayah yang tak pernah mengeluh.
Nanda menjadi beriman karena belajar dari Ayah yang taat beribadah.
Nanda hidup dengan rahmat Alloh karena Ayah yang menghidupi Nanda dengan rezeki yang halal.
Terima kasih Ayah, terima kasih untuk semua keringat, usaha dan doa Ayah selama ini. Terima kasih juga untuk Ibu atas kasih sayang dan restunya.
Besar harapan Nanda atas kehadiran Ayah dan Ibu..”

Tak terasa airmata Aisyah berlinang membasahi kulit pipinya yang putih. Terbayang saat-saat yang pernah mereka lalui bersama, secercah kerinduan mencuat ke permukaan hatinya. Ia rindu ketika bergandengan tangan menyusuri jalan ke sekolah, ia rindu ketika harus berbagi dengan Kakaknya. Teringat ketika Ayah selalu menyempatkan untuk mengantar dan menjemput mereka mengaji. Ayah sengaja mendaftarkan mereka di sebuah TPQ yang letaknya cukup jauh dari rumah karena kualitas pengajaran disana yang bagus dan mereka tidak di pungut biaya. Selain mengaji mereka diajari bahasa asing, arab dan inggris. Begitulah Ayah, selalu berusaha memberi yang terbaik pada anak-anaknya.

Pernah suatu hari Ayah tetap mengantarkan mereka mengaji meski cuaca sedang buruk. Derasnya hujan dan gemuruh petir terdengar memekakkan telinga tak menyurutkan niatnya untuk mengayuh becak mengantar mereka mengaji. Bahkan saat itu Ayah sengaja menunggui mereka, agar sewaktu-waktu mereka pulang lebih awal Ayah dapat segera mengantarkan pulang.

Aisyah menelan ludah pelan. Andai bisa ia mengurai kebaikan Ayah padanya selama ini, tak akan cukup kertas berlembar-lembar. Andai ia mampu mengganti biaya hidup yang diberikan Ayah sejak ia dalam kandungan Ibunya, tak akan cukup uang bermilyar-milyar untuk mengganti setiap pengorbanan Ayahnya. Mungkin saat ini hanya dengan doa ia bisa berbakti pada orangtuanya.Di tengadahkan kedua tangannya, di panjatkannya hatinya ke hadapan Illahi. Kemudian dalam hati ia mulai berdoa
“Ya Alloh, ampunilah aku, Ibu dan Ayahku, dan kasihilah keduanya sebagaimana mereka mengasihi aku sejak kecil. Amin”

Dari kejauhan Aisyah dengan penuh kasih diam-diam menatap Ayah yang tengah membersihkan becak. Mata Aisyah berbinar, senyumnya mengembang dan di sela-sela gerimis di hatinya meluncur kalimat yang tak putus-putus dilontarkan. Seakan-akan kalimat itu mampu menembus ruang dan waktu menyusup ke hati Ayahnya. Sebuah kalimat sederhana yang selama ini belum kuasa di ucapkannya. Sebuah kalimat yang mewakili semua perasaannya. Sebuah kalimat yang berbunyi,
“Terima kasih Ayah…”.

oleh : adityo / arrascak

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!